Dalam perjalanan hidup ku yang
panjang, aku menemui berbagai masalah yang terus datang menghadang. Untuk
menerjangnya yang kubutuhkan hanya kasih sayang dari orang yang menyayangiku. Dan untuk mendapatkan itu ku butuh
kekuatan yang harus ku punya dan harus ku miliki. Kekuatan untuk terus berdiri
tegak menatapi hari-hari yang terus berjalan meninggalkan ku seorang diri,
tanpa ada rasa kasihan terhadap diri ini. Ku butuh semuanya untuk perjuangan ku
yang panjang, akankah kudapati semua itu untuk bekal perjalanan ku nanti.
Suara
hujan yang disusul oleh petir yang saling bersahutan membangunkan ku dari tidur
ku yang lelap disore ini. Tanpa ku sadari hari telah sore, entah apa yang
terjadi begitu bangun aku telah mendapati diri ku kembali keatas ranjang
pembaringan ku yang selalu ada dan menemani ku kapanpun aku butuh. Setelah
berfikir sejenak akhirnya ku sadar, ya aku tertidur saat hati dan dada ku sesak
oleh berbagai macam masalah yang ada didunia ini.
Hujan
masih saja terus menguyur kota ku ini, mengguyur hingga sebagian sisi kota ini
banjir. Walaupun begitu siapa yang perduli, toh setiap kehidupan itu selalu
mengalami gejolak, ada gejolak yang baik maupun gejolak yang buruk.
Dalam menghadapinya kita membutuhkan keberanian yang besar untuk terus menatap
kedepan dan maju tanpa ada rasa ingin menyerah.
Udara
pagi setelah turunnya hujan memang sangat sejuk dan sangat bersih, membuat
paru-paru lebih sehat, tapi hingga pagi ini hujan masih turun , walaupun hanya
rinai hujan yang tertinggal. Ya hari ini hari pertama ku sebagai mahasiswa baru
di salah satu Universitas di kota ku ini. Setelah menempuh perjalanan selama 4
jam dari rumah ku. Rasa deg-degan yang terasa di hati ku mengawali langkah baru
ku untuk mengejar cita-cita yang ku inginkan. Perjalanan yang menyenangkan dari
tempat kos ku sampai fakultas dilanjutkan ke ruangan yang akan menjadi tempat
ku menuntut ilmu lebih tinggi lagi terasa begitu ringan.
Berjumpa
dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam sifat yang melekat pada diri
mereka masing-masing. Memasuki ruangan tempat ku belajar kulihat sudah banyak
kursi yang telah berpenghuni, begitu ramai dan berbedanya cara belajar antara
dikampus dengan di sekolah, membuat ku sedikit kerepotan, tapi mungkin tidak
hanya aku yang berfikir seperti itu, mereka juga berfikir yang sama dengan yang
selama ini ku fikirkan.
Ku
berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai daerah, ada Reza, Fahri, Umam, Ruli,Ruri,Adi,
Randi, Herry, Hedrik, Didik, Oki, Kiki, Diah, Bima, dan banyak lagi yang lain
tapi sayang aku gak pandai bergaul dengan teman yang cewek, karena mereka
selalu membawa setiap candaan yang ada masuk hati, dan menjadikan dendam
tersendiri. Perempuan memang begitu mengerikan kalau telah sakit hati terhaadap
seseorang, oleh sebab itu aku lebih nyaman berteman dengan teman cowok dari
pada teman cewek.
Kehidupan
ku jalani dengan santai, kudapati teman cewek ynag bisa mengerti akan canda dan
gurau ku. Memberi ku semangat menghadapi hari-hari ku. Namanya Kiki lebih
lengkapnya Armila Riski Wardana. Kiki menjadi teman yang sangat baik membuat ku
merasa tidak sendirian lagi, membuat hari-hari memiliki harapan yang selama ini
ku cari. Karena selama ini aku mencari harapan itu di dunia maya yang terkenal
dengan segala kebohongannya. Aku berharap Kiki akan terus ada disamping ku
memberi ku semangat dalam setiap langkah hidup ku dalam ku menjalani hidup yang
membuat ku muak dan ingin muntah ini. Terlepas dari segala masalah yang telah
ada dan ku bawa pergi bersama ku kesini. Kiki membuat ku sadar bahwa aku
seutuhnya seorang perempuan yang lemah yang butuh akan cinta, karena selama ini
cinta dan kasih sayang yang kudapatkan menuntut berbagai persyaratan dari ku,
membuat ku memiliki arti cinta yang lain dari kebanyakkan orang, hal itu
diperparah oleh kata-kata abang ku yang terus terngiang-ngiang di telinga ku
bahwa cinta adalah nafsu yang siap menumpahkan dan mencurahkan rasanya pada
kita baik jiwa maupun raga, yang membuat ku semakin terpuruk dan terjerumus
lagi kejurang ketidak percayaan akan cinta adalah perselingkuhan papa yang
dilakukannya semenjak aku SD dan mama masih mempercayainya hingga aku SMP. Tapi
perselingkuhan ini baru aku sadar dan mengerti ketika aku duduk dikelas 2 SMP,
ya sekarang mama sudah terlepas dari pengaruh cowok brengsek dan bajingan yang
tak lain dan tak bukan adalah papa ku sendiri. Aku senang mama berpisah
darinya, karena dia menyebabkan kakakku mengalami keguguran akan perbuatannya
yang membuat malu semua keluarga dengan tekanan yang dihadapi kakakku yang
terus melandanya membuatnya kehilangan calon bayi yang telah dengan penuh
harapan dan kasih sayang dia dan abang ipar ku nantikan.
Setelah
akhirnya kakakku kembali hamil dan sewaktu ingin melahirkan bukannya dia
memberikan maaf kepada kakakku yang sedang bertarung berjuang hidup dan mati,
dia malah berceramah kepadanya sehingga membuat kakakku harus dioperasi cesar untuk mengeluarkan bayinya. Kebencian ku
kepadanya semakin dalam dan tidak terbendung lagi, kebencian yang tak tahu
bagaimana cara untuk menghentikannya. Kini setelah ku dapat menerimanya ku
mulai berfikir secara objektif, ya semua itu terjadi karena dia telah memilih
hal tersebut untuk terjadi.
Entah
mengapa meskipun kini ku tak lagi membancinya, tapi untuk menerima dan
memanggilnya dengan sebutan papa seperti dulu sangat sulit. Apa ini merupakan
sejenis dendam yang telah menempati sudut hatiku tanpa ku ketahui. Aku sendiri
tidak tahu, tapi yang pasti aku telah memaafkannya, walaupun aku berjanji tidak
akan menerimanya lagi. Tapi akupun telah bertemu dia lagi setelah hampir 3
tahun aku tidak bertemu dia. Walaupun aku bertemu dia dengan paksaan dari mama
dan abang ipar ku, yang katanya hanya sekedar untuk basa-basi.
Pertemuan
yang tidak mengenakkan itupun tanpa sengaja, saat aku hendak mengunjungi kakek
ku yang sakit. Tapi satu hal yang pasti aku telah melupakan wajahnya, dan aku
mengingatnya hanya samar-samar. Kini aku berharap untuk menjalani hidupku
dengan pasti tanpa memikirnya semua hal yang membuat ku mengutuk kehidupan ku
sendiri.
Kehidupan
kampus emang terasa mengenakkan pertamanya tetapi setelah dijalani semua
kebusukkan dari balik pertemanan mulai terkuak satu persatu. Aku semakin
dihadapkan pada kenyataan sebenarnya bagaimana pertemanan yang sangat berbeda
dari tempat asal ku. Disini aku melihat dimana pertemanan yang hanya menginginkan
keuntungan semata.
Setelah
UTS (ujian tengah semester) terlihatlah bagaimana tingkah laku dan sikap semua
orang. Kiki yang selama ini menjadi temanku tiba-tiba, berubah tanpa aku tahu
apa penyebabnya, tapi yang ku dapati perubahan tersebut terjadi karena
perbedaan nilai pada pelajaran daslog (dasar-dasar logika), aku menyadari dia
berubah kini kami tidak lagi saling menyapa dan bercanda. Aku melihat perubahan
tersebut, sekali lagi membuktikan kepada ku bahwa semua hal tentang
persahabatan, cinta dan kasih sayang adalah hal yang sangat sulit untuk ku
dapati.
Kini
aku mencoba lagi gaya hidupku sewaktu SMA dengan hanya mengandalkan diri ini,
aku memulai lagi kehidupan kuliah ku yang penuh dengan fantasi yang sudah lama
ku impikan. Kini ku bebas tidak ada yang membuat ku terikat, aku bebas berteman
dengan siapapun yang kuinginkan untuk berada dekat dengannya. Ya pandangan ku
tentang pertemanan sudah lah tepat, aku tidak dapat berteman akrab dengan teman
cewek di kelas ku. Jadi aku hanya berteman sama teman cowok yang menurutku
lebih sesuai gaya bicara, Sifat dan sikap mereka yang tidak mengambil hati
disetiap sela canda cela dan gurauan yang kami utarakan.
Kini
memasuki ujian akhir, semua teman ku pada sibuk. Mereka begitu sibuknya mencari
tempat yang sesuai untuk dapat melihat kanan kiri dan membuka buku untuk
unjian. Ujian yang masi menggunakan trik saat SMA membuat ku berfikir bagaimana
kualitas dari mahasiswa indonesia. Walaupun kesulitan untuk menghadapi semua
ujian ini aku menikmati setiap kehidupan ku.
Semester
genap ku akhir dengan melihat semua yang terjadi dihadapan ku. Sekarang aku
benar-benar menyadarinya bahwa aku memang hanya seonggok daging yang memiliki
tulang tetapi tidak disadari keberadaanya. Aku mengerti kini , apa yang
dimaksud dengan perjalanan hidup, mungkin aku yang tidak paham akan apa yang
telah terjadi, atau mungkin aku yang tidak mengerti bahwa apa yang kurasakan
adalah sebuah kekeliruan. Walaupun begitu kini aku hanya dapat mempercayai
diriku yang hina ini, diri yang penuh dengan rasa dendam dan sakit. Yang
lama-kelamaan membusuk menjadi sebuah perasaan yang hampa.
Dalam
sejarahnya manusia hanya terlahir kembali. Tetapi entah kenapa begitu aku
mencoba memasuki daerah organisasi, membuatku berfikir untuk melanjutkan
hidupku minimal untuk mama yang selalu menyemangatiku dari jauh dan memberikan
doanya untukku. Aku harus bisa menghadapi tantangan hidup ini dengan percaya
diri. Karena dengan begitulah aku dapat membuktikan kepada mereka bahwa aku
mampu berdiri dikaki ku yang sangat lemah ini. Ingin rasanya ku beristirahat
sejenak mengambil napas, tetapi itu akan membuatku malas dan semakin malas,
serta membuat ku kembal teringat tentang semua yang pernah terjadi kepada ku.
17
maret 2010, aku mungkin tidak sadar bahwa benih-benih kasih dan sayang bersemi
didalam dada ku, maklum aku yang sudah lama melupakan rasa itu kini sangat
sulit untuk membedakan apa yang kurasa membuat perasaan ku menjadi tumpul dan
tidak peka dengan apa yang diinginkan oleh diri ini. Aku menyadari bahwa hubungan
yang pernah ku bina selama ini hanyalah sebatas mimpi dan hanya semu semata.
Aku yang tidak lagi percaya akan cinta dari seorang lelaki, membuat ku banyak
menyakiti hati kaum adam. Entah sebagai bentuk pembalasan dan pelampiasan ku
saja kepada mereka, atau itu yang benar-benar aku inginkan menjadi petualang
cinta yang terus bertualang hingga akhirnya aku terjebak didalam permainan ku
sendiri. Aku pun tidak tau jawabannya. Tetapi aku yakin semua itu sudah diatur
oleh yang diatas dan akan indah dan berkembangpada waktu dan masa yang telah
ditentukan. Aku menantikan masa dan waktu tersebut dengan perasaan yang hampa.
Teman
hanya tinggal teman, begitulah hidupku yang penuh dengan dengan onak berduri,
menghiasi pelabuhan hati, memberikan luka di diri, menjadikan hati ini mati,
untuk suatu peasaan yang suci. Aku mungkin adalah orang yang termunafik didunia
ini, bagaimana tidak, aku tidak ingin mengakui perasaan ini, perasaan yang
tidak kusukai, perasaan yang berkelanjutan hingga akhirnya aku disadari oleh teman-teman
yang baru kudapati karena persamaan nasib yang kami alami.
Cinta
itu datang tanpa aku sadari, diam-diam merasuki jiwa, tanpa permisi
menggoyangkan hati, dan menghancurkan perisai diri. Aku merasa tertipu olehnya,
dengan tangan manis menyambutku dengan senyuman yang menawan, tetapi
dibalik itu ia menjanjikan duri negara
yang siap menusuk ingga kehulu hati yang terdalam. Begitulah pemandangan yang
lagi-lagi tak ingin kusaksikan dengan mata ini. Seakan ku ingin menangis dengan
sekeras-kerasnya agar hilang apa yang kurasakan ini, agar mereka sadar bahwa
aku melihat dan mendengar semua yang mereka lakukan dan katakan. Aku disini
tersiksa, tersiksa dengan ketidak percayaan ku akan cinta, tersiksa dengan
kondisi ku yang butuh kasih dan sayang, tersiksa dengan aku yang haus
perhatian.
Hati
ini ingin sekali menjerit dan berteriak sekuat tenaga, berteriak dan mengatakan
”aku hidup, aku butuh cinta, butuh kasih sayang, butuh belaian dan butuh
diperhatikan, tapi kenapa kalian tidak pernah menyadari itu, kenapa kalian
malah menyuruhku berjuang sendiri, sementara kalian sibuk dengan persoalan
kalian masing-masing. Ma, dapatkah kembali aa rasakan pelukan seorang mama
seperti dulu, belaian seorang mama seperti aa kecil, ma ingin rasanya diri ini
beristirahat untuk kembali melihat tubuh ini lunglai dan tak berdaya, akankah
dengan begitu mama baru akan menyayangi ku, ma aku butuh mama, aku masih butuh cinta mama, aku butuh kasih
kasayang mama, jangan biarkan aku sendiri menghadapi dunia ini. Kak, dapatkah
kita bercanda seperti dahulu, tertawa, gembira, bermain seperti dulu, aku tahu
kakak banyak maslah yang harus kakak selesaikan, tapi tidakkah ada sedikit
waktu untuk aku merasakan kembali apa itu kasih sayang seorang kakak. Abang,
apakah seumur hidup kelak aku tidak akan pernah mendapat perasaan ku sebagai
seorang adik yang mempunya seorang abang, sementara banyak kawan-kawan ku yang
memiliki abang dan membanggakannya kepada ku tentang bagaimana abang mereka
membela mereka, adakah suatu saat engkau akan membelaku untuk menyelamatkan ku
dan aku mendapati kasih sayang yang
selama ini aku ingin kan?”
Aku
sadar sangat sadar itu semua akan ku dapat jika aku sudah tidak ada lagi
dirumah itu, jika aku tidak adalagi dalam keluarga ini. Aku senang karena
akhirnya aku dapat keluar dari rumah dan menjalankan kehidupan ku seorang diri,
tapi satu yang tidak boleh ku lupakan, untuk siapa aku keluar dan untuk siapa
aku terus berjuang. Aku akan membuktikan bahwa aku dapat menghadapi semuanya.
Ya semua yang pernah ku lalui akan mendapat balasannya kini atau nanti.
Pertemuan
ku dengannya membawa perubahan yang berarti dalam hidupku membawa kebahagiaan
yang tiada duanya. Membuatku mengerti akan arti cnta dan kasih sayang.
Membuatku menyadari bahwa aku butuh kasih dan sayang, cinta dan belaian
perhatian dari seorang lelaki yang akan menghiasi hidup ku.
17
maret 2010 aku bertemu dengannya dikenalkan oleh bang ruli, mungkinkah ini Akhir dari kesabaran ku, ketika ku bertemu
dengan mu, orang asing yang jutek tanpa ekspresi dan juga tanpa senyum diwajah.
Dikenalkan oleh abang yang paling dekat dengan ku, abang yang sewaktu
pertama kali ku temui begitu jutek dan asik smz an sama pacarnya. Entah apa
yang menyebabkan kami jadi dekat hingga dia hanya judes dengan ku seorang tapi
dibalik itu semua mungkin itulah yang membuat kami seperti kakak adik bahkan
ada yang mengatakan kami pacaran, ampun padahal aku tau pasti bahwa dia
memiliki seseorang yang selalu memperhatikan dia setiap saat dan menanyakan
keadaannya. Hari Rabu itulah ia mengajak ku pergi jalan-jalan kebangkinang
dengan alasan pertamanya hanya menjenguk saudara yang sekolah disana. Dengan
polos dan penuh rasa percaya kepadanya aku ikut dengan mereka, kami bertiga
pergi kebangkinang. Ditengah perjalanan menuju kesana kami berhenti membeli
bensin, disanalah aku yang memang orangnya tidak bisa diam dengan kebisuan
membuat ku tanpa sadar mengulurkan tangan bersalaman dan mengajaknya untuk
berkenalan. Dengan wajah yang masih suram membuat ku ingin sekali mengatakan
“ada malaikat lewat ya?” entah apa yang dipikirkannya yang jelas ini aku,
kepalang tanggung mau menja imej yang telah diketahui oleh abang ku yang satu
ini, ya bang Ruli yang aku panggil dengan sebutan bang uul. Dia mengetahui
bagaimana sifat ku yang tidak bisa diam dan terus mengoceh tanpa ada yang dapat
menghentikan dan itu mungkin rasa ngantuk dan bosan kepada sesuatu.
“kok diam aja? Ada setan lewat ya?”
kata-kata pertama ku kepadanya membuat sebuah senyuman diwajah yang tadi
terlihat bĂȘte. “kenalan yuk, dari tadi diam dan muka ditekuk kayak ada yang
buat sakit hati aja? Ups kembali kata-kata yang seenaknya keluar dari mulut ku.
“aa, abang siapa namanya?” aku mengulurkan tangan kedepan. Sebuah suara
akhirnya aku dengar dari mulutnya yang tadi terkunci rapat “bb” dia menyambut uluran
tangan ku dengan bercanda yang garing. “gak lucu ah, cukup bang uul yang
manggil aa dengan sebutan bb?” kata aa menghadapi candaan yang gak lucu
tersebut. “ya udh lau gitu cc aja gmn” lagi-lagi candaan yg garing.”ok lah
kalau begitu deal ya berarti ada bang uul, bang cc ma aa dong. Hahaha lengkap
nih “ aku ketawa dan semua yang didalam mobil ikut tertawa. Akhirnya suasana
bisa cair juga. “bang uul, serius nama abang ini cc ?“ aku bertanya kepada bang
uul. “tanya aja sendiri b” jawab bang uul.” Ih tega ya tadi kana a udah nanya
dua kali ma bang cc tu” buset deh dimukanya aku ngomong kayak gitu dengan suara
keras pula, ampun deh udh jatuh nih makin jatuh aja.”bang serius lah siapa
namanya, aa kan gak tau, nama aa sih emang aa Cuma bang uul aja yang manggilnya
bb “ aku yang penasaran membuat ku menanggalkan rasa malu yang sudah dari tadi
aku tahan sekarang hilang lenyak karena dikalahkan oleh rasa penasaran yang
terus mengahntui pikiran ku.
“bang seriuslah siapa namanya?”
untuk kedua kalinya aku bertanya kepadanya. Dia menghadap kebelakang dan
mengulurkan tangannya kepada ku. Aku menyambut uluran tangan itu” Aris, udah
kan” dengan gaya yang sok cool
menyampaikan namanya dengan singkat. “bang ul benar namanya Aris?” aku
bertanya kepada bang uul, “bb kan dengar tadi siapa”malah balik bertanya kapada
ku lagi, aduh ini abang bisa belain aku atau gak ya.”seriuskan bang namanya
Aris” aku bertanya langsung kepadanya” iya kok gak percaya sih, perlu di
tunjukkin KTP nya?” dia mulai menantang nih dalam pikiran ku, aku yang tidak
mau kalah “boleh mana KTPnya” dia merogoh saku celananya dan menunjukkan KTPnya
kepada ku dan ternyata benar namanya Aris. Aku tertawa sambil mengembalikan
KTPnya. “hehehe… mupz ya bang” aku ketawa.
Ampun lagi-lagi kayak dikuburan
gitu, aku yang bisa muntah dibuatnya karena diam-diam saja akhirnya memulai
pembicaraan yang jelas garing bangets. “bang, bang Aris, abang kuliah dimana?”
aku bertanya kepadanya “abang gak kuliah?”. “udah tamat?” “gak kuliah dan juga
gak tamat SMP?” “waw yang benar aja dong?” “iya” “ berarti sekarang kerja
dong?” “iya bantu-bantu paman aja” “hebat ya!!! Betul gak bang ul?” “ yoi”
Mengobrol hingga sampai di tempat
tujuan membuat ku terdiam, kami sampai jam 3.35 di tempat yang katanya saudara
bang Aris, hmmm setelah dilihat ternyata adalah pacar yang sudah lama tidak
bertemu. Sudah delapan bulan lebih mereka hilang komunikasi dan kebetulan pada
saat itu selagi ada waktu makanya dia mengunjunginya dan tanpa sengaja juga
bang uul mengajak ku. Ampun deh mati kutu litany, ternyata anak SMA kelas dua
dan ternyata umur kami sama Cuma beda bulan saja. Aku melihat wajah yang
malu-malu ketika bertemu, aku menyadari bahwa mereka sepasang kekasih yang
sudah lama tidak bertemu.
Kami keluar dan pergi jalan-jalan
mereka berdua pergi dan aa ma bang uul ditinggal dibukit naang untuk main tree
top yang menantang adrenalin. Tidak terasa hari sudah sore kami bertemu dan
langsung mengantar Shinta pulang kekosnya dan kami pun melanjutkan perjalanan
pulang juga, tap sebelum melanjutkan perjalanan kami kembali kepekan baru, kami
mampir disebuah kafe dipingir jalan, disana kami berhenti minum dan kebetulan
hari hujan. Kami memesan minuman dan sambil menunggu pesanan kami dating kami
bertiga pun menggoda pelayan kafe tersebut dan bercerita tentang pengalaman
hari ini. Jam sudah menunjukkan setengah enam sore kami pun melanjutkan
perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang baru suasana mulai mencair dan mulai
ada canda tawa dan juga mulai kelihatanlah ternyata bang Aris juga merupakan
orang yang senang dengan candaan yang membangkitkan suasana.
Tanpa terasa perjalanan hari ini
usai dengan baik, pengalaman yang bagi ku tidak pernah pergi jalan-jalan. Aku
berterima kasih kepada bang Ruli yang telah mengajak ku untuk menghabiskan
hari-hari ku yang membosankan dengan mengajakku jalan-jalan dan mengenalkan
kota bangkinang kepada ku.
Sesampai ku dikos langsung berlari
dan siap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun teman ku yang akan diadakan
dicafe sanjaya, selesai mandi dan berpakaian kami sekitar jam 9 berangkat
kecafe tersebut dan juga membeli hadiah untuk Dewi. Pesta yang meriah, ditengah
pesta HP ku berbunyi sebuah nomer yang tidak dikenal aku mengangkatnya dan
terdengar suara seorang lelaki yang lumayan sering aku dengar hari ini. Aku
yang emang dasar pelupa dan loding lama membuat ku bertanya siapa sih ?,
ternyata dia bang Aris yang mendapat no HP ku dari bang Uul, dan kamipun bicara
cukup lama membuat perhatianku teralih dari pesta tersebut.
***
Aa dan bang Aris jalan keluar kami
makan di MTQ dengan menggunakan motor Mionya kak Dini, karena aa emang nyuruh dia bawa kereta law mau ketemu atau
jalan ma aa harus pake kereta. Kami makan jagung dan pisang bakar, ketika asik
makan dating seorang kakek dan kami memberikan secukupnuya dan dia mendoakan
kami agar langgeng dan menjadi pasangan. Padahal aku dan bang Aris hanya
sebatas teman, sampai pada malam itu dia mengatakan suka pada ku, tentu aku
tidak akan percaya begitu saja apa yang dia katakana, secara aku dan dia sudah
sama-sama memiliki pacar, dan dia tidak peduli yang hanya dia tau dia menyukai
ku dan tentu saja itu haknya menyukai siapapun.
Baru seminggu kami kenalan dia
mengajakku kerumahnya, aa yang emang kuliah hanya sampai kamis tentu sangat
senang menerima tawaran berlibur gratis dan ketempat yang belum pernah aa
kunjungin lagi. Asik banget kamis malam dia menjemputku bersama dua temannya
bang ijab ma bang nasar, kami bercerita dalam perjalan, sesampai disuram kami
berhenti bang Aris membeli buah dan martabak untuk keluarganya. Memasuki daerah
rumah bang Aris jalanan yang merupakan tanah merah membuat perjalanan lama dan
mobil kami sempat terpuruk dan kotor penuh dengan lumpur. Kami sampai dirumah
bang Aris jam setengah satu malam, rumah yang sejuk dan nyaman membuat ku
betah, aku sampai dirumah itu dan melihat dua orang yang tentunya merupakan
ayah dan ibu bang Aris aku memanggil mereka ayah dan ibu sebab aku tidak tau
harus memanggil mereka apa, aku udah bertanya ke bang Aris dia bilang terserah
aa mau manggil apa. Aku disambut hangat dan langsung disuruh masuk kekamar adik
bang Aris yang bernama Iis, iis merupakan siswi kelas 1 SMA bersekolah
dipesantren dareel hikmah di pekanbaru, kebetulan murid kelas 3 ujian dan dia libur. Aku tidak
tau kalau hari jumat keluarga bang Aris mengadakan acara syukuran. Aku
dikenalkan kepada keluarganya ada kakak bang Aris yang bernama kak Imel dia
sudah berkeluarga dan memiliki anak yang bernama yoga. Ada farul, kiki, iyal,
nenek, ante, paman, dan banyak lagi.
Aku terbangun besok paginya
mendengar suara azan yang sangat jelas, aku melihat ibu siap sholat dan akupun
mengambil wudu’ dan sholat. “Aku bertanya bang Aris belum bangun ya bu?” “belum
a, dia mana bisa bangun pagi.”ibu menjawab dengan logat Kampar yang kental
dengan O. selesai sholat akupun kembali kekamar, karena aku tau kalau bang Aris
capek dan lelah karena semalam habis menyetir sampai jam 1 hanya untuk
menjemputku. Aku terbangun untuk kedua kalinya dan aku melihat matahari telah
jauh mendahului ku dan memberikan cahayanya kepada ku untuk melihat bumi ini
lagi. Suara sibuk terdengar diluar dan suara kambing pun ikut menyemarakkannya.
Aku melihat ibu di dapur dan melihat beberapa orang teman-teman ibu yang sibuk
meyiapkan makanan untuk acara syukuran nanti siang sehabis sholat jumat. Aku
tidak tau acara syukuran apa, dan aku belum sempat bertanya kepada bang Aris.
Aku melihat dia yang sibuk dengan urusannya sendiri dan hanya sesekali dia
menyapa dan tersenyum kepada ku.
Dasar ibuk-ibuk kerjaannya kerja
sambil ngegosip, aku diinvestigasi layaknya tahanan dipenjara, ditanya ini itu
dan hany menjawab seadanya. Aku ditanya anak mana aku bilang bahwa orang tua ku
tinggal diduri dan mereka orang sumbar tepatnya payakumbuh. Aku dijejal
pertanyaan udah berapa lama kenal sama Aris?. Ampun baaimana aku menjawabnya
agar mereka percaya, aku jujur saja toh emang begitu keadaanya, aku baru
mengenalnya lebih kurang satu minggu, dan aku diajaknya berlibur kerumahnya.
dimana kenal sama Aris? Belum lagi sempat ku jawab bang Aris tiba-tiba muncul
dari belakang,”ayo nanya-nanya apa tuh, ikutan dong.?” Candaan seperti biasanya
dan baru aku tau kalau dia begitu disayang oleh keluarganya dan orang-orang
yang ada disekitarnya. Membuatku semakin iri akan kehidupannya, “a ntar kita
nyuci mobil paman ya. Mau kan . harus mau karena gara-gara aa kan kotor mandi
lumpur mobil paman!”gaya bicara yang diselingi oleh canda adalah cirri
khasnya”ok, jam berapa? Emang abang gak sholat jumat?” “ya habis sholat jumat,
sama syukuran baru kita kesungai sambil mandi?” “ok deh kalau begitus
Catatan: Gimana nyambung gk??