Kamis, 04 September 2014

Ketika Cinta Berjaya

            Dalam perjalanan hidup ku yang panjang, aku menemui berbagai masalah yang terus datang menghadang. Untuk menerjangnya yang kubutuhkan hanya kasih sayang dari orang yang menyayangiku. Dan untuk mendapatkan itu ku butuh kekuatan yang harus ku punya dan harus ku miliki. Kekuatan untuk terus berdiri tegak menatapi hari-hari yang terus berjalan meninggalkan ku seorang diri, tanpa ada rasa kasihan terhadap diri ini. Ku butuh semuanya untuk perjuangan ku yang panjang, akankah kudapati semua itu untuk bekal perjalanan ku nanti.
            Suara hujan yang disusul oleh petir yang saling bersahutan membangunkan ku dari tidur ku yang lelap disore ini. Tanpa ku sadari hari telah sore, entah apa yang terjadi begitu bangun aku telah mendapati diri ku kembali keatas ranjang pembaringan ku yang selalu ada dan menemani ku kapanpun aku butuh. Setelah berfikir sejenak akhirnya ku sadar, ya aku tertidur saat hati dan dada ku sesak oleh berbagai macam masalah yang ada didunia ini.
            Hujan masih saja terus menguyur kota ku ini, mengguyur hingga sebagian sisi kota ini banjir. Walaupun begitu siapa yang perduli, toh setiap kehidupan itu selalu mengalami gejolak, ada gejolak yang baik maupun gejolak yang buruk. Dalam menghadapinya kita membutuhkan keberanian yang besar untuk terus menatap kedepan dan maju tanpa ada rasa ingin menyerah.
            Udara pagi setelah turunnya hujan memang sangat sejuk dan sangat bersih, membuat paru-paru lebih sehat, tapi hingga pagi ini hujan masih turun , walaupun hanya rinai hujan yang tertinggal. Ya hari ini hari pertama ku sebagai mahasiswa baru di salah satu Universitas di kota ku ini. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari rumah ku. Rasa deg-degan yang terasa di hati ku mengawali langkah baru ku untuk mengejar cita-cita yang ku inginkan. Perjalanan yang menyenangkan dari tempat kos ku sampai fakultas dilanjutkan ke ruangan yang akan menjadi tempat ku menuntut ilmu lebih tinggi lagi terasa begitu ringan.
            Berjumpa dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam sifat yang melekat pada diri mereka masing-masing. Memasuki ruangan tempat ku belajar kulihat sudah banyak kursi yang telah berpenghuni, begitu ramai dan berbedanya cara belajar antara dikampus dengan di sekolah, membuat ku sedikit kerepotan, tapi mungkin tidak hanya aku yang berfikir seperti itu, mereka juga berfikir yang sama dengan yang selama ini ku fikirkan.
            Ku berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai daerah, ada Reza, Fahri, Umam, Ruli,Ruri,Adi, Randi, Herry, Hedrik, Didik, Oki, Kiki, Diah, Bima, dan banyak lagi yang lain tapi sayang aku gak pandai bergaul dengan teman yang cewek, karena mereka selalu membawa setiap candaan yang ada masuk hati, dan menjadikan dendam tersendiri. Perempuan memang begitu mengerikan kalau telah sakit hati terhaadap seseorang, oleh sebab itu aku lebih nyaman berteman dengan teman cowok dari pada teman cewek.
            Kehidupan ku jalani dengan santai, kudapati teman cewek ynag bisa mengerti akan canda dan gurau ku. Memberi ku semangat menghadapi hari-hari ku. Namanya Kiki lebih lengkapnya Armila Riski Wardana. Kiki menjadi teman yang sangat baik membuat ku merasa tidak sendirian lagi, membuat hari-hari memiliki harapan yang selama ini ku cari. Karena selama ini aku mencari harapan itu di dunia maya yang terkenal dengan segala kebohongannya. Aku berharap Kiki akan terus ada disamping ku memberi ku semangat dalam setiap langkah hidup ku dalam ku menjalani hidup yang membuat ku muak dan ingin muntah ini. Terlepas dari segala masalah yang telah ada dan ku bawa pergi bersama ku kesini. Kiki membuat ku sadar bahwa aku seutuhnya seorang perempuan yang lemah yang butuh akan cinta, karena selama ini cinta dan kasih sayang yang kudapatkan menuntut berbagai persyaratan dari ku, membuat ku memiliki arti cinta yang lain dari kebanyakkan orang, hal itu diperparah oleh kata-kata abang ku yang terus terngiang-ngiang di telinga ku bahwa cinta adalah nafsu yang siap menumpahkan dan mencurahkan rasanya pada kita baik jiwa maupun raga, yang membuat ku semakin terpuruk dan terjerumus lagi kejurang ketidak percayaan akan cinta adalah perselingkuhan papa yang dilakukannya semenjak aku SD dan mama masih mempercayainya hingga aku SMP. Tapi perselingkuhan ini baru aku sadar dan mengerti ketika aku duduk dikelas 2 SMP, ya sekarang mama sudah terlepas dari pengaruh cowok brengsek dan bajingan yang tak lain dan tak bukan adalah papa ku sendiri. Aku senang mama berpisah darinya, karena dia menyebabkan kakakku mengalami keguguran akan perbuatannya yang membuat malu semua keluarga dengan tekanan yang dihadapi kakakku yang terus melandanya membuatnya kehilangan calon bayi yang telah dengan penuh harapan dan kasih sayang dia dan abang ipar ku nantikan.
            Setelah akhirnya kakakku kembali hamil dan sewaktu ingin melahirkan bukannya dia memberikan maaf kepada kakakku yang sedang bertarung berjuang hidup dan mati, dia malah berceramah kepadanya sehingga membuat kakakku harus dioperasi  cesar untuk mengeluarkan bayinya. Kebencian ku kepadanya semakin dalam dan tidak terbendung lagi, kebencian yang tak tahu bagaimana cara untuk menghentikannya. Kini setelah ku dapat menerimanya ku mulai berfikir secara objektif, ya semua itu terjadi karena dia telah memilih hal tersebut untuk terjadi.
            Entah mengapa meskipun kini ku tak lagi membancinya, tapi untuk menerima dan memanggilnya dengan sebutan papa seperti dulu sangat sulit. Apa ini merupakan sejenis dendam yang telah menempati sudut hatiku tanpa ku ketahui. Aku sendiri tidak tahu, tapi yang pasti aku telah memaafkannya, walaupun aku berjanji tidak akan menerimanya lagi. Tapi akupun telah bertemu dia lagi setelah hampir 3 tahun aku tidak bertemu dia. Walaupun aku bertemu dia dengan paksaan dari mama dan abang ipar ku, yang katanya hanya sekedar untuk basa-basi.
            Pertemuan yang tidak mengenakkan itupun tanpa sengaja, saat aku hendak mengunjungi kakek ku yang sakit. Tapi satu hal yang pasti aku telah melupakan wajahnya, dan aku mengingatnya hanya samar-samar. Kini aku berharap untuk menjalani hidupku dengan pasti tanpa memikirnya semua hal yang membuat ku mengutuk kehidupan ku sendiri.
            Kehidupan kampus emang terasa mengenakkan pertamanya tetapi setelah dijalani semua kebusukkan dari balik pertemanan mulai terkuak satu persatu. Aku semakin dihadapkan pada kenyataan sebenarnya bagaimana pertemanan yang sangat berbeda dari tempat asal ku. Disini aku melihat dimana pertemanan yang hanya menginginkan keuntungan semata.
            Setelah UTS (ujian tengah semester) terlihatlah bagaimana tingkah laku dan sikap semua orang. Kiki yang selama ini menjadi temanku tiba-tiba, berubah tanpa aku tahu apa penyebabnya, tapi yang ku dapati perubahan tersebut terjadi karena perbedaan nilai pada pelajaran daslog (dasar-dasar logika), aku menyadari dia berubah kini kami tidak lagi saling menyapa dan bercanda. Aku melihat perubahan tersebut, sekali lagi membuktikan kepada ku bahwa semua hal tentang persahabatan, cinta dan kasih sayang adalah hal yang sangat sulit untuk ku dapati.
            Kini aku mencoba lagi gaya hidupku sewaktu SMA dengan hanya mengandalkan diri ini, aku memulai lagi kehidupan kuliah ku yang penuh dengan fantasi yang sudah lama ku impikan. Kini ku bebas tidak ada yang membuat ku terikat, aku bebas berteman dengan siapapun yang kuinginkan untuk berada dekat dengannya. Ya pandangan ku tentang pertemanan sudah lah tepat, aku tidak dapat berteman akrab dengan teman cewek di kelas ku. Jadi aku hanya berteman sama teman cowok yang menurutku lebih sesuai gaya bicara, Sifat dan sikap mereka yang tidak mengambil hati disetiap sela canda cela dan gurauan yang kami utarakan.
            Kini memasuki ujian akhir, semua teman ku pada sibuk. Mereka begitu sibuknya mencari tempat yang sesuai untuk dapat melihat kanan kiri dan membuka buku untuk unjian. Ujian yang masi menggunakan trik saat SMA membuat ku berfikir bagaimana kualitas dari mahasiswa indonesia. Walaupun kesulitan untuk menghadapi semua ujian ini aku menikmati setiap kehidupan ku.
            Semester genap ku akhir dengan melihat semua yang terjadi dihadapan ku. Sekarang aku benar-benar menyadarinya bahwa aku memang hanya seonggok daging yang memiliki tulang tetapi tidak disadari keberadaanya. Aku mengerti kini , apa yang dimaksud dengan perjalanan hidup, mungkin aku yang tidak paham akan apa yang telah terjadi, atau mungkin aku yang tidak mengerti bahwa apa yang kurasakan adalah sebuah kekeliruan. Walaupun begitu kini aku hanya dapat mempercayai diriku yang hina ini, diri yang penuh dengan rasa dendam dan sakit. Yang lama-kelamaan membusuk menjadi sebuah perasaan yang hampa.
            Dalam sejarahnya manusia hanya terlahir kembali. Tetapi entah kenapa begitu aku mencoba memasuki daerah organisasi, membuatku berfikir untuk melanjutkan hidupku minimal untuk mama yang selalu menyemangatiku dari jauh dan memberikan doanya untukku. Aku harus bisa menghadapi tantangan hidup ini dengan percaya diri. Karena dengan begitulah aku dapat membuktikan kepada mereka bahwa aku mampu berdiri dikaki ku yang sangat lemah ini. Ingin rasanya ku beristirahat sejenak mengambil napas, tetapi itu akan membuatku malas dan semakin malas, serta membuat ku kembal teringat tentang semua yang pernah terjadi kepada ku.
            17 maret 2010, aku mungkin tidak sadar bahwa benih-benih kasih dan sayang bersemi didalam dada ku, maklum aku yang sudah lama melupakan rasa itu kini sangat sulit untuk membedakan apa yang kurasa membuat perasaan ku menjadi tumpul dan tidak peka dengan apa yang diinginkan oleh diri ini. Aku menyadari bahwa hubungan yang pernah ku bina selama ini hanyalah sebatas mimpi dan hanya semu semata. Aku yang tidak lagi percaya akan cinta dari seorang lelaki, membuat ku banyak menyakiti hati kaum adam. Entah sebagai bentuk pembalasan dan pelampiasan ku saja kepada mereka, atau itu yang benar-benar aku inginkan menjadi petualang cinta yang terus bertualang hingga akhirnya aku terjebak didalam permainan ku sendiri. Aku pun tidak tau jawabannya. Tetapi aku yakin semua itu sudah diatur oleh yang diatas dan akan indah dan berkembangpada waktu dan masa yang telah ditentukan. Aku menantikan masa dan waktu tersebut dengan perasaan yang hampa.
            Teman hanya tinggal teman, begitulah hidupku yang penuh dengan dengan onak berduri, menghiasi pelabuhan hati, memberikan luka di diri, menjadikan hati ini mati, untuk suatu peasaan yang suci. Aku mungkin adalah orang yang termunafik didunia ini, bagaimana tidak, aku tidak ingin mengakui perasaan ini, perasaan yang tidak kusukai, perasaan yang berkelanjutan hingga akhirnya aku disadari oleh teman-teman yang baru kudapati karena persamaan nasib yang kami alami.
            Cinta itu datang tanpa aku sadari, diam-diam merasuki jiwa, tanpa permisi menggoyangkan hati, dan menghancurkan perisai diri. Aku merasa tertipu olehnya, dengan tangan manis menyambutku dengan senyuman yang menawan, tetapi dibalik  itu ia menjanjikan duri negara yang siap menusuk ingga kehulu hati yang terdalam. Begitulah pemandangan yang lagi-lagi tak ingin kusaksikan dengan mata ini. Seakan ku ingin menangis dengan sekeras-kerasnya agar hilang apa yang kurasakan ini, agar mereka sadar bahwa aku melihat dan mendengar semua yang mereka lakukan dan katakan. Aku disini tersiksa, tersiksa dengan ketidak percayaan ku akan cinta, tersiksa dengan kondisi ku yang butuh kasih dan sayang, tersiksa dengan aku yang haus perhatian.
            Hati ini ingin sekali menjerit dan berteriak sekuat tenaga, berteriak dan mengatakan ”aku hidup, aku butuh cinta, butuh kasih sayang, butuh belaian dan butuh diperhatikan, tapi kenapa kalian tidak pernah menyadari itu, kenapa kalian malah menyuruhku berjuang sendiri, sementara kalian sibuk dengan persoalan kalian masing-masing. Ma, dapatkah kembali aa rasakan pelukan seorang mama seperti dulu, belaian seorang mama seperti aa kecil, ma ingin rasanya diri ini beristirahat untuk kembali melihat tubuh ini lunglai dan tak berdaya, akankah dengan begitu mama baru akan menyayangi ku, ma aku butuh mama, aku  masih butuh cinta mama, aku butuh kasih kasayang mama, jangan biarkan aku sendiri menghadapi dunia ini. Kak, dapatkah kita bercanda seperti dahulu, tertawa, gembira, bermain seperti dulu, aku tahu kakak banyak maslah yang harus kakak selesaikan, tapi tidakkah ada sedikit waktu untuk aku merasakan kembali apa itu kasih sayang seorang kakak. Abang, apakah seumur hidup kelak aku tidak akan pernah mendapat perasaan ku sebagai seorang adik yang mempunya seorang abang, sementara banyak kawan-kawan ku yang memiliki abang dan membanggakannya kepada ku tentang bagaimana abang mereka membela mereka, adakah suatu saat engkau akan membelaku untuk menyelamatkan ku dan aku mendapati  kasih sayang yang selama ini aku ingin kan?”
            Aku sadar sangat sadar itu semua akan ku dapat jika aku sudah tidak ada lagi dirumah itu, jika aku tidak adalagi dalam keluarga ini. Aku senang karena akhirnya aku dapat keluar dari rumah dan menjalankan kehidupan ku seorang diri, tapi satu yang tidak boleh ku lupakan, untuk siapa aku keluar dan untuk siapa aku terus berjuang. Aku akan membuktikan bahwa aku dapat menghadapi semuanya. Ya semua yang pernah ku lalui akan mendapat balasannya kini atau nanti.
            Pertemuan ku dengannya membawa perubahan yang berarti dalam hidupku membawa kebahagiaan yang tiada duanya. Membuatku mengerti akan arti cnta dan kasih sayang. Membuatku menyadari bahwa aku butuh kasih dan sayang, cinta dan belaian perhatian dari seorang lelaki yang akan menghiasi hidup ku.
            17 maret 2010 aku bertemu dengannya dikenalkan oleh bang ruli, mungkinkah ini  Akhir dari kesabaran ku, ketika ku bertemu dengan mu, orang asing yang jutek tanpa ekspresi dan juga tanpa senyum diwajah. Dikenalkan oleh abang yang paling dekat dengan ku, abang yang sewaktu pertama kali ku temui begitu jutek dan asik smz an sama pacarnya. Entah apa yang menyebabkan kami jadi dekat hingga dia hanya judes dengan ku seorang tapi dibalik itu semua mungkin itulah yang membuat kami seperti kakak adik bahkan ada yang mengatakan kami pacaran, ampun padahal aku tau pasti bahwa dia memiliki seseorang yang selalu memperhatikan dia setiap saat dan menanyakan keadaannya. Hari Rabu itulah ia mengajak ku pergi jalan-jalan kebangkinang dengan alasan pertamanya hanya menjenguk saudara yang sekolah disana. Dengan polos dan penuh rasa percaya kepadanya aku ikut dengan mereka, kami bertiga pergi kebangkinang. Ditengah perjalanan menuju kesana kami berhenti membeli bensin, disanalah aku yang memang orangnya tidak bisa diam dengan kebisuan membuat ku tanpa sadar mengulurkan tangan bersalaman dan mengajaknya untuk berkenalan. Dengan wajah yang masih suram membuat ku ingin sekali mengatakan “ada malaikat lewat ya?” entah apa yang dipikirkannya yang jelas ini aku, kepalang tanggung mau menja imej yang telah diketahui oleh abang ku yang satu ini, ya bang Ruli yang aku panggil dengan sebutan bang uul. Dia mengetahui bagaimana sifat ku yang tidak bisa diam dan terus mengoceh tanpa ada yang dapat menghentikan dan itu mungkin rasa ngantuk dan bosan kepada sesuatu.
            “kok diam aja? Ada setan lewat ya?” kata-kata pertama ku kepadanya membuat sebuah senyuman diwajah yang tadi terlihat bête. “kenalan yuk, dari tadi diam dan muka ditekuk kayak ada yang buat sakit hati aja? Ups kembali kata-kata yang seenaknya keluar dari mulut ku. “aa, abang siapa namanya?” aku mengulurkan tangan kedepan. Sebuah suara akhirnya aku dengar dari mulutnya yang tadi terkunci rapat “bb” dia menyambut uluran tangan ku dengan bercanda yang garing. “gak lucu ah, cukup bang uul yang manggil aa dengan sebutan bb?” kata aa menghadapi candaan yang gak lucu tersebut. “ya udh lau gitu cc aja gmn” lagi-lagi candaan yg garing.”ok lah kalau begitu deal ya berarti ada bang uul, bang cc ma aa dong. Hahaha lengkap nih “ aku ketawa dan semua yang didalam mobil ikut tertawa. Akhirnya suasana bisa cair juga. “bang uul, serius nama abang ini cc ?“ aku bertanya kepada bang uul. “tanya aja sendiri b” jawab bang uul.” Ih tega ya tadi kana a udah nanya dua kali ma bang cc tu” buset deh dimukanya aku ngomong kayak gitu dengan suara keras pula, ampun deh udh jatuh nih makin jatuh aja.”bang serius lah siapa namanya, aa kan gak tau, nama aa sih emang aa Cuma bang uul aja yang manggilnya bb “ aku yang penasaran membuat ku menanggalkan rasa malu yang sudah dari tadi aku tahan sekarang hilang lenyak karena dikalahkan oleh rasa penasaran yang terus mengahntui pikiran ku.
            “bang seriuslah siapa namanya?” untuk kedua kalinya aku bertanya kepadanya. Dia menghadap kebelakang dan mengulurkan tangannya kepada ku. Aku menyambut uluran tangan itu” Aris, udah kan” dengan gaya yang sok cool  menyampaikan namanya dengan singkat. “bang ul benar namanya Aris?” aku bertanya kepada bang uul, “bb kan dengar tadi siapa”malah balik bertanya kapada ku lagi, aduh ini abang bisa belain aku atau gak ya.”seriuskan bang namanya Aris” aku bertanya langsung kepadanya” iya kok gak percaya sih, perlu di tunjukkin KTP nya?” dia mulai menantang nih dalam pikiran ku, aku yang tidak mau kalah “boleh mana KTPnya” dia merogoh saku celananya dan menunjukkan KTPnya kepada ku dan ternyata benar namanya Aris. Aku tertawa sambil mengembalikan KTPnya. “hehehe… mupz ya bang” aku ketawa.
            Ampun lagi-lagi kayak dikuburan gitu, aku yang bisa muntah dibuatnya karena diam-diam saja akhirnya memulai pembicaraan yang jelas garing bangets. “bang, bang Aris, abang kuliah dimana?” aku bertanya kepadanya “abang gak kuliah?”. “udah tamat?” “gak kuliah dan juga gak tamat SMP?” “waw yang benar aja dong?” “iya” “ berarti sekarang kerja dong?” “iya bantu-bantu paman aja” “hebat ya!!! Betul gak bang ul?” “ yoi”
            Mengobrol hingga sampai di tempat tujuan membuat ku terdiam, kami sampai jam 3.35 di tempat yang katanya saudara bang Aris, hmmm setelah dilihat ternyata adalah pacar yang sudah lama tidak bertemu. Sudah delapan bulan lebih mereka hilang komunikasi dan kebetulan pada saat itu selagi ada waktu makanya dia mengunjunginya dan tanpa sengaja juga bang uul mengajak ku. Ampun deh mati kutu litany, ternyata anak SMA kelas dua dan ternyata umur kami sama Cuma beda bulan saja. Aku melihat wajah yang malu-malu ketika bertemu, aku menyadari bahwa mereka sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
            Kami keluar dan pergi jalan-jalan mereka berdua pergi dan aa ma bang uul ditinggal dibukit naang untuk main tree top yang menantang adrenalin. Tidak terasa hari sudah sore kami bertemu dan langsung mengantar Shinta pulang kekosnya dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang juga, tap sebelum melanjutkan perjalanan kami kembali kepekan baru, kami mampir disebuah kafe dipingir jalan, disana kami berhenti minum dan kebetulan hari hujan. Kami memesan minuman dan sambil menunggu pesanan kami dating kami bertiga pun menggoda pelayan kafe tersebut dan bercerita tentang pengalaman hari ini. Jam sudah menunjukkan setengah enam sore kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang baru suasana mulai mencair dan mulai ada canda tawa dan juga mulai kelihatanlah ternyata bang Aris juga merupakan orang yang senang dengan candaan yang membangkitkan suasana.
            Tanpa terasa perjalanan hari ini usai dengan baik, pengalaman yang bagi ku tidak pernah pergi jalan-jalan. Aku berterima kasih kepada bang Ruli yang telah mengajak ku untuk menghabiskan hari-hari ku yang membosankan dengan mengajakku jalan-jalan dan mengenalkan kota bangkinang kepada ku.
            Sesampai ku dikos langsung berlari dan siap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun teman ku yang akan diadakan dicafe sanjaya, selesai mandi dan berpakaian kami sekitar jam 9 berangkat kecafe tersebut dan juga membeli hadiah untuk Dewi. Pesta yang meriah, ditengah pesta HP ku berbunyi sebuah nomer yang tidak dikenal aku mengangkatnya dan terdengar suara seorang lelaki yang lumayan sering aku dengar hari ini. Aku yang emang dasar pelupa dan loding lama membuat ku bertanya siapa sih ?, ternyata dia bang Aris yang mendapat no HP ku dari bang Uul, dan kamipun bicara cukup lama membuat perhatianku teralih dari pesta tersebut.
            ***
            Aa dan bang Aris jalan keluar kami makan di MTQ dengan menggunakan motor Mionya kak Dini, karena aa emang  nyuruh dia bawa kereta law mau ketemu atau jalan ma aa harus pake kereta. Kami makan jagung dan pisang bakar, ketika asik makan dating seorang kakek dan kami memberikan secukupnuya dan dia mendoakan kami agar langgeng dan menjadi pasangan. Padahal aku dan bang Aris hanya sebatas teman, sampai pada malam itu dia mengatakan suka pada ku, tentu aku tidak akan percaya begitu saja apa yang dia katakana, secara aku dan dia sudah sama-sama memiliki pacar, dan dia tidak peduli yang hanya dia tau dia menyukai ku dan tentu saja itu haknya menyukai siapapun.
            Baru seminggu kami kenalan dia mengajakku kerumahnya, aa yang emang kuliah hanya sampai kamis tentu sangat senang menerima tawaran berlibur gratis dan ketempat yang belum pernah aa kunjungin lagi. Asik banget kamis malam dia menjemputku bersama dua temannya bang ijab ma bang nasar, kami bercerita dalam perjalan, sesampai disuram kami berhenti bang Aris membeli buah dan martabak untuk keluarganya. Memasuki daerah rumah bang Aris jalanan yang merupakan tanah merah membuat perjalanan lama dan mobil kami sempat terpuruk dan kotor penuh dengan lumpur. Kami sampai dirumah bang Aris jam setengah satu malam, rumah yang sejuk dan nyaman membuat ku betah, aku sampai dirumah itu dan melihat dua orang yang tentunya merupakan ayah dan ibu bang Aris aku memanggil mereka ayah dan ibu sebab aku tidak tau harus memanggil mereka apa, aku udah bertanya ke bang Aris dia bilang terserah aa mau manggil apa. Aku disambut hangat dan langsung disuruh masuk kekamar adik bang Aris yang bernama Iis, iis merupakan siswi kelas 1 SMA bersekolah dipesantren dareel hikmah di pekanbaru, kebetulan  murid kelas 3 ujian dan dia libur. Aku tidak tau kalau hari jumat keluarga bang Aris mengadakan acara syukuran. Aku dikenalkan kepada keluarganya ada kakak bang Aris yang bernama kak Imel dia sudah berkeluarga dan memiliki anak yang bernama yoga. Ada farul, kiki, iyal, nenek, ante, paman, dan banyak lagi.
            Aku terbangun besok paginya mendengar suara azan yang sangat jelas, aku melihat ibu siap sholat dan akupun mengambil wudu’ dan sholat. “Aku bertanya bang Aris belum bangun ya bu?” “belum a, dia mana bisa bangun pagi.”ibu menjawab dengan logat Kampar yang kental dengan O. selesai sholat akupun kembali kekamar, karena aku tau kalau bang Aris capek dan lelah karena semalam habis menyetir sampai jam 1 hanya untuk menjemputku. Aku terbangun untuk kedua kalinya dan aku melihat matahari telah jauh mendahului ku dan memberikan cahayanya kepada ku untuk melihat bumi ini lagi. Suara sibuk terdengar diluar dan suara kambing pun ikut menyemarakkannya. Aku melihat ibu di dapur dan melihat beberapa orang teman-teman ibu yang sibuk meyiapkan makanan untuk acara syukuran nanti siang sehabis sholat jumat. Aku tidak tau acara syukuran apa, dan aku belum sempat bertanya kepada bang Aris. Aku melihat dia yang sibuk dengan urusannya sendiri dan hanya sesekali dia menyapa dan tersenyum kepada ku.
            Dasar ibuk-ibuk kerjaannya kerja sambil ngegosip, aku diinvestigasi layaknya tahanan dipenjara, ditanya ini itu dan hany menjawab seadanya. Aku ditanya anak mana aku bilang bahwa orang tua ku tinggal diduri dan mereka orang sumbar tepatnya payakumbuh. Aku dijejal pertanyaan udah berapa lama kenal sama Aris?. Ampun baaimana aku menjawabnya agar mereka percaya, aku jujur saja toh emang begitu keadaanya, aku baru mengenalnya lebih kurang satu minggu, dan aku diajaknya berlibur kerumahnya. dimana kenal sama Aris? Belum lagi sempat ku jawab bang Aris tiba-tiba muncul dari belakang,”ayo nanya-nanya apa tuh, ikutan dong.?” Candaan seperti biasanya dan baru aku tau kalau dia begitu disayang oleh keluarganya dan orang-orang yang ada disekitarnya. Membuatku semakin iri akan kehidupannya, “a ntar kita nyuci mobil paman ya. Mau kan . harus mau karena gara-gara aa kan kotor mandi lumpur mobil paman!”gaya bicara yang diselingi oleh canda adalah cirri khasnya”ok, jam berapa? Emang abang gak sholat jumat?” “ya habis sholat jumat, sama syukuran baru kita kesungai sambil mandi?” “ok deh kalau begitus


 Catatan: Gimana nyambung gk??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar